Ketika Dosa Dibayar Kontan

Sepulang dari haji, salah satu pertanyaan yang seringkali ditanyakan orang di kantor adalah, ada kejadian aneh apa di tanah suci yang menimpa kita?

Ada sebuah keyakinan umum di masyarakat bahwa kebiasaan buruk kita di masa lalu ataupun juga di saat itu akan dibalas di tanah suci. Ibaratnya, dosa kita dibayar kontan. Cash keras,  enggak pake dicicil !

Sebenarnya saya enggan menjawab pertanyaan itu, karena bisa jadi ceritanya mengungkap aib sendiri. Tapi tetap semuanya menunggu saya bercerita. Mata mereka berbinar-binar dengan senyuman tersungging khas orang yang sedang kepo tingkat tinggi.

Karena mereka tetap menunggu saya bercerita, saya pun akhirnya luluh. “Ya sudah, tapi ini demi dakwah ya. Ambil hikmahnya, jangan jadi gosip!” “Siap,” sahut mereka cepat sekali, sepertinya rasa kepo mereka yang menjawabnya.

Cerita pertama, “Disemprot” orang. Ada satu waktu menjelang kepulangan dari tenda Mina dimana saya tiba-tiba dimarahi seorang jamaah haji perempuan. Pedes sekali. Merepet gak berhenti sambil matanya melotot. Saya sendiri bingung saya salah apa sampai segitu hebohnya ibu itu ngomel.

“Ohhh itu balasan karena suka pedes ke anak buah, om,” sahut mereka sambil nyengir.. “Astaghfirullah, ya sudah saya minta maaf lagi ya kalau saya pernah marah-marah seperti itu,” kata saya. “Oke kalau gitu cerita lain saja,” saya mengalihkan cerita.

Kejadian lain. Bapak saya hilang di Masjidil Haram.

Karena sudah berumur 75 tahun, bapak saya orientasi pemetaan sekeliling kurang baik. Jadi harus selalu saya temani. Bahkan jika ke toilet saya harus berdiri di depan pintu agar beliau tidak nyasar karena toilet di Masjidil Haram luas dan ramai.

Satu waktu setelah tawaf Ifadah sekaligus tawaf Wada, saya ijin sebentar untuk membeli makanan. Saya titip bapak ke kakak perempuan saya. Sejam kemudian saya kembali, ternyata bapak gak ada di tempatnya tadi menunggu. Kata teman jamaah, bapak ke toliet dianter kakak saya. Perasaan saya kok langsung gak enak. Bergegas saya menyusul ke toilet nomer 8 yang paling dekat dengan titik kumpul tadi.

Di tengah jalan saya berpapasan dengan kakak. Tapi kok dia sendirian. Perasaan saya tambah tidak enak. “Bapak mana? ” tanya saya khawatir. “Saya tunggu di atas, tapi sudah sejam bapak gak naik. Saya mau masuk untuk mengecek kan tidak bisa karena perempuan!” Benar saja perasaan saya. Jantung saya seolah copot. Banyak skenario buruk yang tiba tiba muncul di kepala.

Saya berlari turun ke toilet nomer 8. Saya perhatikan satu persatu orang. Saya panggil nama bapak di setiap lorong-lorong toilet. Baru saya sadar, besar sekali ya toilet di Masjidil Haram. Tiba diujung saya melihat ada sebuah tangga ke atas. Tidak seperti di masjid Nabawi yang pintu toilet satu, ternyata di masjidil haram pintunya dua. Masuk dan keluar bisa berbeda dan cukup jauh.

Saya langsung menduga bapak pasti keluar ke pintu berbeda dari saat dia masuk. Saya kembali keatas, mengabarkan bapak tidak ada dalam toilet, dan menanyakan pakaian terakhir yang dipakainya. “Jaket merah dan topi Maghfirah hijau,” kata kakak.

“Ah gampang kalau gitu, kan gak banyak orang pakai warna merah ke mesjid menjelang subuh begini.” Ada sedikit rasa sombong dan takabur dalam omongan saya. Saya masuk lagi ke toilet 8 dan keluar di pintu satunya di ujung lorong. Merasa yakin bapak keluar disana dan yakin pasti mudah menemukannya dengan jaket merahnya.

Sampai diatas takabur saya terbalas. Di hadapan saya ndilalah banyak sekali orang berpakaian merah. Orang orang Afrika yang memang sering berpakaian warna cerah, subuh itu berhijab  merah. Jadi sulit menemukan bapak diantara ratusan orang berpakaian merah.

Sadar sedang ditegur Allah SWT, saya segera menghadap kiblat, beristighfar tiga kali memohon ampun atas kesombongan dan takabur saya dan berdoa merintih agar dipertemukan dengan bapak.

Alhamdulillah, tak lama doa saya dijawab Allah. Berjalan tak sampai lima menit kemudian mata saya menangkap sosok seorang kakek berjaket merah bertopi hijau sedang berjalan pelan sambil celingukan melihat-lihat. Saya berlari. “Alhamdulillah. Bapak ketemu!!” Saya gandeng lengannya erat.

Ketika saya tanya, Bapak sendiri juga mengaku takabur karena yakin pasti bisa kembali ke tempat kumpul yang dekat dengan Zam Zam Tower. Tapi ternyata setelah itu penglihatannya ditutup. Zam Zam Tower tak terlihat kemanapun dia melihat keatas. “Saya baru saja istighfar dua kali, eh ketemu kamu. Alhamdulillah. Kok Zam Zam Towernya gak terlihat ya,” kata Bapak.

“Masa sih, lah itu apa pak segede alaihim diatas kita!” aku menunjuk ke tower tinggi seperti jam gadang versi arab diatas langit kami. “Astagfirullah, sekarang keliatan, tadi berjam-jam dicari gak terlihat,” lirihnya.

Itu hanya dua kisah dari banyak cerita tentang dosa yang dibalas kontan. Selama 26 hari berhaji banyak kejadian yang sadar ataupun tidak menegur kita dan mengingatkan kita untuk selalu beristighfar. Karena manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Dan di tanah haram, malaikat Allah ada di setiap jengkal mengawasi kita.

َ كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya.
(HR. At Tirmidzi no. 2499, Hasan)

Insya Allah kita termasuk orang orang yang bertaubat dan tidak mengulanginya, sehingga semua dosa-dosa itu sudah hilang di buku catatan perbuatan kita saat dihisab di akhirat, ketika mulut dikunci dan panca indra kita lainnya yang berbicara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: