Bermalam di Bawah Langit Mudzalifah

Berdiri sama tinggi, Duduk sama rendah. Ibarat peribahasa, begitulah kondisi jamaah haji saat bermalam atau mabit di Mudzalifah.

Berpakaian sama, pakaian ihram, yaitu kain putih tanpa berjahit. Fasilitas bermalam sama : toilet umum, tidur beralas tikar dan beratapkan langit berbintang. Baunya pun sama karena dua hari tidak ganti pakaian ihram, dan tak boleh pakai wewangian. Lusuh, dekil dan semriwing baunya.

Jutaan orang jamaah haji yang hadir di Mudzalifah merasakan hal yang sama, bahwa ini adalah gambaran kecil padang mashyar dimana kita semua sederajat dan di mata Allah swt hanya ketakwaan yang membedakannya.

Rasanya nikmaat sekali tidur di bawah langit luas, shalat tahajud dan shalat subuh bersama di lapangan terbuka. Mungkin seperti inilah nanti kita dibangkitkan di padang Mahsyar, tidak ada lagi titel dan jabatan. Semuanya sama-sama hamba Allah.

Bermalam di Mudzalifah hukumnya wajib. Maka siapa saja yang meninggalkannya diharuskan untuk membayar Dam. Dianjurkan untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW; bermalam hingga memasuki waktu shalat Subuh, kemudian berhenti hingga fajar menguning. Setelah itu, bertolak ke Mina sebelum matahari terbit dan bersiap melontar jumrah.

Meski hanya semalam, Mudzalifah memberikan pelajaran bahwa dunia hanyalah sarana untuk mencari bekal di perjalanan akhirat.

Mekah, 26 Agustus 2018
Jojo Suharjo Nugroho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: