Sebuah Cerita di Ruang Kelas Moestopo

I love monday. Senin pagi-pagi saya sudah datang jam 8 pagi di Universitas Moestopo (Beragama). Jangan tanya saya kenapa ada kata Beragama. Googling lah saja sendiri sejarahnya.

Ternyata sudah ada bang Benny Butar Butar, VP Corp Communication Citilink di ruangan seminar. Saya keduluan. Tapi sekitar 200-an kursi mahasiswa masih kosong. Tak ada seorangpun. Acara akan dimulai sejam lagi, jam 9.

Gumam saya, kami yang kepagian, atau mahasiswa yang lelah karena begadang , entah belajar atau nonton bola. Tak tahu lah. Yang penting ketemu senior saya bang Benny membuat pagi ini lebih semangat. Kami berdiskusi banyak hal sambil menunggu mahasiswa masuk ruangan seminar.

Sudah jam 9, acara harus dimulai. Sudah ada mahasiswa yang hadir meski belum penuh. Bang Ben memulai presentasi. Perlahan tapi pasti kursi mulai penuh. Selanjutnya giliran saya presentasi. kursi tambah penuh. 200 mahasiswa akhirnya sudah memenuhi ruangan. Ada kawan-kawan saya para pendekar dan srikandi Komunikasi dari ISKI DKI yang juga hadir.

Sengaja saya sela beberapa materi dengan candaan untuk mencairkan suasana dan agar mereka gak ngantuk karena materi yang berat. Beberapa video yang menarik cukup membantu mereka memahami materi.

Kata Pak Dekan Yoga, Mahasiswa ini semester 4 dan 6 di Fakultas Komunikasi Moestopo. Tapi di sela presentasi saya lempar beberapa pertanyaan kok tidak ada yang angkat tangan. Diam seribu bahasa. Diimingin buku “Om Telolet Om” masih pura pura liat lantai. Apakah sehari dosennya begitu galak sehingga mereka takut untuk aktif berdiskusi?

Sesi tanya jawab dimulai. Dugaaan saya salah. Ibarat mesin diesel, panasnya lama. Kini, mata mereka mulai berbinar, bersemangat, bergelora, mencari jawaban, menggapai harapan. Bukan mata nanar kosong yang tak peduli dan apatis.

Pertanyaannya pun terlempar tajam. Setajam silet. Terutama beberapa pertanyaan untuk bang Ben. sepertinya merdeka mengikuti semua isu yang meliputi Citilink. Sampai mundurnya Dirut Citilink pun dipertanyakan ada apa sebenarnya. Bang Ben pun terharu bercerita hingga serak serau menahan emosi kesedihan.

Sebrang mahasiwa, Ratih menanyakan tentang cara mengatasi hoax di era post truth ini. Jawabannya belum bisa dijawab bahkan oleh pemerintah kita saat ini, apalagi oleh saya, remahan rempeyek di meja makan.

Imelda bertanya, apa yang seharusnya dilakukan korporasi agar tidak ada kompetitor yang “riding the moment” saat kita ditimpa krisis. Ini juga bikin saya tiba tiba gatal kepala. Habis sarapan apa mahasiswa ini sehingga tajam sekali pertanyaannya. Pertanyaan terakhir juga dahsyat, apakah harus menjadi seorang jurnalis dulu untuk menjadi seorang PR yang handal?

Hebat-hebat yah pertanyaannya, sudah seperti pertanyaan Dirut BUMN. Ketika seminar selesai dan mereka berebut mengisi absen, saya berdoa semoga mereka nanti menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan, menjadi ahli komunikasi yang bukan saja cerdas namun juga berhati mulia. Amiin. @omjojoho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: