Allah Enggak Butuh Ibadah Kita!

Ada dua jenis orang di sekitar kita, pertama orang yang merasa jagoan di muka bumi. Dia merasa berada tinggi di atas orang lain. Semua yang dimiliki saat ini adalah hanya karena usahanya sendiri. Kepandaian yang dimiliki, kekuasaaan yang dipunyai, kecantikan, kekayaannya, semua adalah prestasi dirinya sendiri.
Semesta adalah saya. Tidak ada tempat dan waktu untuk Allah, tidak waktu untuk agama. Shalat bolong-bolong, puasa Ramadhannya Senin-Kamis, Senin sampai Kamis gak puasa. Sedekah Zakat berat. Dia tidak butuh Allah. Dia merasa sudah punya segalanya.
Ada lagi kebalikannya. Orang ini rajin ibadah. Ahli ibadah. Sebut saja semua amalan, dia pasti sudah jalankan itu. Sehingga dia pun merasa sudah punya derajat yang tinggi. Dia mulai meremehkan manusia lain. Dia merasa sudah berada di tingkat yang lebih tinggi dari orang lain. Mulailah dia mudah mengkafirkan orang.
“Gue punya jenggot yang panjang, orang lain tidak, gue hafal 10 juz sementara orang lain iqro pun belum tamat. Gue shalat 5 waktu tepat waktu, sementara orang lain wudhu aja gak tau, celana gue dong cingkrang elu enggak, hijab gue dong syar’i hijab elu modis, Jidat gue dong item tanda sering shalat, ah jidat elu gak ada tanda itemnya, Gue dong udah ‘Hijrah’ elu masih maksiat aje,” kata kita di dalam hati dengan rasa campursari congkak, sombong dan riya.
Dia percaya, dirinya lebik baik dari manusia kebanyakan. Dia juga mulai percaya bahwa Allah Azza wa Jalla membutuhkannya. Dia yakin bahwa Allah butuh shalatnya, Allah butuh puasanya. Tiap bersedekah dia berhitung. “Ya Allah aku sudah menyumbang Rp500 ribu berarti Engkau hutang kepadaku rejeki minimal 10 kali lipatnya.
Ketahuilah bahwa, Allah tidak berhutang apapun kepada kita. Dia tidak butuh shalat kita, sedekah kita, puasa kita, haji kita. Kitalah yang butuh Allah SWT.
“Hai Manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji (QS. Fathir : 15)
Allah tidak perduli apakah kita mau beribadah kepadaNya atau tidak. Kita melakukan amal kebaikan atau tidak, kita taat atau ingkar, kita maksiat atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh pada keagungan Allah Ta’ala.
Andai seluruh manusia beriman dan bertaqwa, keagungan Allah tetap pada kesempurnaan-Nya. Andai semua manusia kafir dan ingkar kepada Allah, sama sekali tidak mengurangi kekuasaan-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman:
يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم . كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم . ما زاد ذلك في ملكي شيئا . يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم . وإنسكم وجنكم . كانوا على أفجر قلب رجل واحد . ما نقص ذلك من ملكي شيئا
 
“Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal samapi yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bertaqwa, hal itu sedikitpun tidak menambah kekuasaan-Ku. Wahai hamba-Ku, andai seluruh manusia dan jin dari yang paling awal sampai yang paling akhir, seluruhnya menjadi orang yang paling bermaksiat, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kekuasaan-Ku” (HR. Muslim, no.2577)
 
Semua umat manusia bersama dan menentang perintah Allah, tidak akan sedikitpun mengurangi kekuasaan Allah. “Dan Musa berkata, “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (Niklamt Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS Ibrahim 8)
Demikianlah, Allah Ta’ala tidak butuh terhadap ibadah kita. Lalu untuk apa kita berlelah-lelah, menghabiskan banyak waktu untuk beramal dan beribadah? Karena kita lah yang butuh untuk itu.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kamu berbuat baik, kebaikan itu bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS. Al Isra: 7)
 
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri” (QS. Luqman: 7)
Jadi semua ibadah kita buat siapa? Buat diri kita sendiri lah! Karena Surga harganya mahal. Timbangan amal kita harus jauh lebih besar daripada dosa. Sudah ibadah dan beramal saja belum tentu diterima Allah SWT karena kualitasnya jelek.
Apaan nih shalatnya begini, apaan nih puasanya kayak gini, gak berkualitas. Ibadah apaan nih gak ada sunahnya, Gak kepake. Dibalikin lagi sama Allah. Sementara dosa kita berkualitas semua. Karena kalau urusan berbuat dosa kita sepenuh hati. Nauzubillah min Zalik.
Insya Allah kita sedang berusaha menjadi orang yang saleh, yang bersyukur atas karunia Nya dengan beribadah kepada Allah SWT. Demi kebaikan kita sendiri. Demi Surga-nya Allah yang abadi. Ya Allah yang Maha Penerima Tobat, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terimalah semua amal ibadah kami yang tidak seberapa ini dan hapuskanlah dosa dosa kami. Amin ya Rabbal Alamin.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: